Sumatera Utara, Asahan -- Di karenakan jalan provinsi rusak warga desa mengangkat jenazah terpaksa memakai tandu peristiwa ini terjadi di Desa Sei Sembilang, Kecamatan Sei Kepayang Timur, Kabupaten Asahan terpaksa melintasi jalan berlumpur yang nyaris tak bisa dilalui kendaraan.
Peristiwa itu terjadi pada Kamis 23/10/2025 saat warga hendak membawa jenazah Syamajid (29) menuju rumah duka. Karena akses jalan rusak berat, mobil ambulans hanya mampu mengantar hingga Dusun III, sebelum akhirnya perjalanan dilanjutkan dengan cara tradisional: dipikul ramai-ramai oleh warga.
“Ambulans hanya sampai Dusun III, kemudian dilanjutkan dengan tandu tradisional,” ujar Kadis Kominfo Asahan, Jutawan Sinaga, Jumat (24/10).
Ia menjelaskan, kondisi jalan di Sei Kepayang Timur memang sudah lama rusak dan terbagi dalam dua kewenangan: pemerintah kabupaten dan pemerintah provinsi Sumatera Utara.
“Kewenangan kabupaten hanya 2,5 kilometer, selebihnya — sekitar 40 kilometer yang menghubungkan Sei Kepayang ke Labuhanbatu Utara — merupakan jalan provinsi,” jelasnya.
Menurutnya, Pemkab Asahan sudah beberapa kali mengajukan perbaikan ke pemerintah provinsi sejak 2021, namun hingga kini belum terealisasi.
“Sempat masuk ke program pembangunan jalan Rp2,7 triliun pada masa Gubernur Edy Rahmayadi, tapi tidak terealisasi,” tambahnya.
Meski demikian, Pemkab mengklaim sudah menganggarkan perbaikan jalan di P.APBD 2025 dan APBD 2026, termasuk peningkatan jalan dari Dusun VII menuju Dusun III.
Jutawan meminta warga bersabar, sembari menegaskan bahwa anggaran pembangunan sudah disiapkan.
Namun di lapangan, kesabaran warga tampak benar-benar diuji. Mereka harus menggotong jenazah di tengah lumpur, karena jalan yang seharusnya menjadi urat nadi kehidupan, kini malah jadi simbol betapa lambatnya pembangunan menyentuh pelosok.
Datuk S

