Kebumen – Kepercayaan merupakan modal sosial yang mahal. Ia membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dibangun, namun dapat runtuh seketika akibat satu kesalahan fatal. Fenomena ini menjadi sorotan tajam di tengah dinamika sosial masyarakat saat ini, di mana dampak dari hilangnya kepercayaan tidak lagi hanya dirasakan oleh individu, melainkan merembet ke keluarga, lingkungan kerja, hingga masyarakat luas.
Pengamatan di lapangan menunjukkan, banyak persoalan sosial yang bermula dari lingkungan pergaulan yang tidak sehat. Kebiasaan mengonsumsi alkohol berlebihan hingga kesalahan dalam memilih kawan, sering kali menjadi pintu masuk bagi serangkaian masalah yang lebih kompleks, mulai dari konflik keluarga, hilangnya karier, hingga jeratan hukum.
Pimpinan redaksi Detikdimensi.com Sunardi, menilai bahwa akar persoalan sering kali terletak pada lemahnya pengendalian diri dan pengaruh lingkungan.
"Kepercayaan itu ibarat kaca, sekali retak akan selalu meninggalkan bekas. Banyak kasus bermula dari pergaulan yang salah, di mana seseorang terseret pada keputusan fatal hanya karena ingin ikut-ikutan," ungkap Sunardi, Senin (28/9/2026).
Ia menambahkan, lingkungan pergaulan sangat memengaruhi karakter dan keputusan seseorang. Oleh karena itu, landasan iman dan keluarga yang kuat menjadi benteng pertahanan utama agar individu tidak terseret ke dalam lingkaran yang tidak menghargai norma dan hukum.
Persoalan menjadi semakin pelik ketika kesalahan individu tersebut terekspos ke ruang publik. Di era digital, informasi yang belum terverifikasi sering kali menyebar lebih cepat daripada fakta itu sendiri. Sunardi menyayangkan fenomena "penghakiman massal" yang marak terjadi di media sosial.
Menurutnya, netizen sering kali memvonis sebuah kejadian yang belum utuh. Rekan kerja atau orang di sekitar pun kerap ikut menyebarkan informasi hanya agar terlihat update atau mengikuti tren viral.
"Padahal, ini sama saja dengan menyiram bensin ke dalam api. Persoalan kecil bisa menjadi bom waktu yang menghancurkan reputasi seseorang sebelum proses hukum atau klarifikasi selesai," tegasnya.
Sunardi mengingatkan bahwa satu kalimat yang dibagikan tanpa pikir panjang dapat ditafsirkan liar oleh ribuan orang. Alih-alih membantu menyelesaikan masalah, tindakan impulsif di media sosial justru berpotensi menciptakan masalah baru yang lebih besar.
Tingginya arus informasi ini menempatkan tanggung jawab besar di pundak insan pers. Dewan Pers secara konsisten menegaskan bahwa wartawan terikat pada Kode Etik Jurnalistik (KEJ), khususnya Pasal 3 yang mewajibkan wartawan menguji informasi secara berimbang dan tidak mencampurkan fakta dengan opini yang menghakimi.
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers juga mengamanatkan agar pers menghormati asas praduga tak bersalah. Memberitakan kasus hukum adalah hal yang lumrah, namun caranya harus dapat dipertanggungjawabkan.
Menyoroti hal ini, Sunardi menekankan pentingnya pemisahan antara fakta, dugaan, dan opini.
"Bagi wartawan, akurasi adalah nyawa. Memberitakan dugaan sebagai fakta adalah pelanggaran etik serius," ujarnya.
Ia juga mencatat bahwa Dewan Pers telah menangani banyak pengaduan terkait pemberitaan yang tidak berimbang dan melanggar hak jawab.
Terkait konsekuensi hukum, Sunardi meluruskan pemahaman masyarakat mengenai batasan sengketa pers dan tindak pidana. Ia mengimbau agar mekanisme Hak Jawab dan Hak Tolak sesuai UU Pers diutamakan apabila ada pemberitaan yang dianggap merugikan, daripada langsung memidanakan wartawan. Kriminalisasi terhadap jurnalis, menurutnya, hanya boleh terjadi jika terbukti ada unsur itikad buruk yang jelas-jelas keluar dari koridor profesi jurnalistik.
Pada akhirnya, seluruh persoalan ini bermuara pada kedewasaan dalam bertindak. Baik bagi individu dalam pergaulan sehari-hari maupun bagi pekerja media dalam menyajikan informasi. Profesionalisme diukur bukan dari seberapa cepat informasi disebar, melainkan seberapa bijak informasi tersebut disampaikan dengan mempertimbangkan dampak kemanusiaan di baliknya.
"Jangan sampai kita kehilangan kepercayaan hanya karena ingin menjadi yang pertama viral. Ingat, di balik setiap berita dan setiap kasus, ada manusia yang memiliki keluarga dan masa depan," pesan penutup Sunardi.
Sebab sebagaimana pepatah mengatakan, kepercayaan dibangun dengan waktu, namun kehilangannya hanya butuh satu detik. Dan mengembalikannya, jauh lebih sulit daripada sekadar menekan tombol 'unggah' di media sosial. Bijaklah bergaul, dan bijaklah bermedia.
(TIM/RED

